MENGUKUR
INTELIGENSI LEWAT GAYA BERPIKIR ANAK
Oleh : Dede Ubaidillah
Dari bahasa
bermacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang
menonjol, yaitu semua manusia yang mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam pola
perkembangannya dan di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk
warisan manusia secara biologis dan sosial.
Tiap-tiap individu
mempunyai kecenderungan yang berbeda, perbedaan-perbedaan tersebut secara
keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan kualitatif. Sejauh mana
individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau
kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Seorang guru setiap
tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda satu sama lain.
Siswa-siswa yang berada di dalam kelas, tidak dapat seorang pun yang sama.
Mungkin sekali dua orang yang dilihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi
pada kenyataannya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat
perbedaan sifat psikis yang berbeda-beda.
Inteligensi dapat
dirumuskan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak
secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara
efektif. Rumusan tersebut mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang
dimaksudkan dalam istilah intelek, yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam
berpikir atau bertindak.
Berhubungan dengan
masalah kemampuan itu, para ahli psikologi telah mengembangkan berbagai alat
ukur (tes inteligensi) untuk menyatakan tingkat kemampuan berpikir atau
inteligensi seseorang. Salah satu tes inteligensi yang terkenal adalah tes yang
dikembangkan oleh Alferd Binet, yakni seorang ahli ilmu jiwa (psycholog) Prancis, merintis
perkembangan inteligensi yang agak umum. Kemudian tes ini disempurnakan oleh
Theodore Simon, sehingga tes tersebut terkenal dengan sebutan “Tes Binet
Simon”.
Hasil tes inteligensi
dinyatakan dalam bentuk angka, yang menggambarkan perbandingan umur kemampuan
mental atau kecerdasan (mental age
disingkat MA) dan umur kalender (chronogical
age disingkat CA). Dengan demikian, mengukur inteligensi dalam pernyataan
angka dapat diajukan dengan rumus :
MA
CA
Apabila tes tersebut
diberikan kepada anak umur tertentu dan ia dapat menjawab dengan betul
seluruhnya, berarti umur kecerdasannya (MA) sama dengan umur kalender (CA),
maka nilai IQ yang anak itu dapat sama dengan 100. Nilai ini menggambarkan
kemampuan seorang anak yang normal. Anak yang berumur, misalnya 6 tahun hanya
dapat menjawab tes untuk anak yang berumur 5 tahun, akan tetapi nilai IQ
dibawah 100 dan ia dinyatakan sebagai anak yang berkemampuan dibawah normal,
sebaliknya anak berumur 5 tahun tetapi telah dapat menjawab dengan benar tes
yang diperuntukan untuk anak berumur 6 tahun, maka nilai IQ anak itu diatas
100, dan ia dikatakan sebagai anak yang cerdas.
Pada usianya, IQ
dihitung dengan cara memberikan seperanngkat pertanyaan yang terdiri dari
berbagai soal (hitungan , kata-kata, gambar-gambar, dan semacamnya) dan
menghitung berapa banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar kemudian
membandingkannya dengan sebuah daftar, dengan cara itu didapatkan nilai IQ anak
yang bersangkutan. Adapun cara lain untuk mengukur IQ anak juga bisa dengan
cara menyuruh anak untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu dan menjawab pertanyaan
tertentu (misalnya menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau
bulan, membuka pintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain). Jumlah pekerjaan
yang bisa dilakukan anak kemudian di cocokan dengan suatu daftar untuk
mengetahui umur mental (MA) anak. Makin banyak yang bisa menjawab atau
dikerjakan anak dengan betul, maka makin tinggi usia mentalnya. Dengan
menggunakan rumus diatas, maka dapat di kemukakan nilai IQ anak.
Kemampuan berpikir
abstrak menunjukan perhatian anak kepada kejadian dan peristiwa yang tidak
konkret seperti misalnya pilihan perbuatan, corak bersosialisasi anak, pilihan
teman bergaul, dan lain-lain. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam
perkembangan kepribadiannya. Mereka dapat memikirkan perihal diri sendiri.
Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian
diri dan kritik diri. Hasil penelitian tentang dirinya tidak selalu diketahui
orang lain, bahkan sering terlihat usaha untuk menyembunyikan atau
merahasiakannya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi yang akan datang
nyata dalam pikirannya, perihal keadaan diri yang tercermin sebagai suatu
kemungkinan bentuk kelak di kemudian hari.
Kemampuan abstraksi
mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana
yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi ini (yang diakibatkan
kemampuan abstraksi) akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus
asa.
Disamping itu pengaruh
egosentris masih terlihat pada pikirannya.
1. Cita-cita
dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri tanpa
memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang
mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuanberpikir
dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya.
Masih sulit membedakan perhatian orang lain daripada tujuan perhatian diri
sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan
orang lain mengenai dirinya.
Egosentrisme dapat
menimbulkan reaksi lain, dimana anak justru melebih-lebihkan diri dalam
penilaian diri sendiri. Mereka merasa dirinya “ampuh” atau “hebat” sehingga
berani menantang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas yang acapkali
kurang dipersiapkan dan justru berbahaya. Misalnya seorang anak yang menghajar
pencopet di tempat yang ramai, tanpa memperhitungkan resiko yang mungkin berupa
perlawanan oleh pencopet tersebut.
Melalui banyak
pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang
lain, maka egosentrisme makin berkurang. Pada akhirnya, pengaruh egosentrisitas
pada anak sudah sedemikian kecilnya, sehingga berarti anak sudah dapat berpikir
abstrak dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.
Gaya berpikir terlepas
dari tempat dan waktu, dengan cara hipotesis, deduktif yang sistematis tidak
selalu dicapai oleh semua anak. Tercapai atau tidak tercapainya cara berpikir
ini tergantung juga pada tingkat intelegensi dan kebudayaan sekitarnya. Seorang
anak yang dengan kemampuan intelegensi terletak dibawah normal atau nilai IQ
kurang dari 90 % tidak akan tercapai taraf berpikir yang abstrak.
Seorang anak dengan
kemampuan berpikir normal akan tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan
yang tidak merangsang cara berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk
menambah pengetahuan, pergi ke sekolah tetapi tidak adanya fasilitas yang
dibutuhkan, maka anak itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf
berpikir abstrak.
Komentar
Posting Komentar